Kamis, 15 Juli 2010. Pulang dari kampus sekitar jam 13.00 WIB aku langsung ganti pakaian dan mampir ke sebuah warung nasi di komplek perumahan Teluk Purwokerto. Dengan cepatnya aku menghabiskan makan siangku di warung itu. Aku sedikit terburu-buru karena mengejar bis patas ke Yogyakarta. Dengan perhitungan berangkat dari terminal Purwokerto jam 14.00 maka Insya Allah aku akan tiba di Yogyak sekitar jam 18.00.
Sesampai di terminal aku masuk ke bis Sumber Alam Patas jurusan Yogyakarta. Ternyata sepi sekali hari itu. Tidak ada penumpang selain aku. Hebat bener...!!!! Ke Yogyakarta sendirian naik bis patas yang cukup cantik. Seperti nyewa satu bis saja tapi dengan tarif Rp. 30.000,00. Supir bis itu sedikit menggerutu, "Jan...., baru kali ini sepinya seperti ini. Penumpang pada kemana ya...???". Si kernet bis cuma bisa tersenyum kecut. " Iya Pak ya.... Kok sepi sekali hari ini." Jawab si kernet tersebut. Memang sepi sekali aku kira. Keluar dari terminal cuma aku seorang yang naik bis itu...
Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang sepinya penumpang bis Purwokerto - Yogyakarta hari itu. Ada yang lebih menarik dari itu, menurutku. Hal itu adalah ceramah yang diberikan oleh salah seorang Kyai besar dari Rembang, Jawa Tengah yang sengaja didatangkan oleh Kyai Zaini Adnan, Pengurus Ponpes Ki Ageng Giring, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta dalam rangka Akhirussanah dan Khaul Pendiri Ponpes tersebut. Ki Ageng Giring adalah tempat aku mengawali pengalamanku ketika awal berkelana di Yogyakarta, sekitar 8 tahunyang lalu.
Sesampai di terminal aku masuk ke bis Sumber Alam Patas jurusan Yogyakarta. Ternyata sepi sekali hari itu. Tidak ada penumpang selain aku. Hebat bener...!!!! Ke Yogyakarta sendirian naik bis patas yang cukup cantik. Seperti nyewa satu bis saja tapi dengan tarif Rp. 30.000,00. Supir bis itu sedikit menggerutu, "Jan...., baru kali ini sepinya seperti ini. Penumpang pada kemana ya...???". Si kernet bis cuma bisa tersenyum kecut. " Iya Pak ya.... Kok sepi sekali hari ini." Jawab si kernet tersebut. Memang sepi sekali aku kira. Keluar dari terminal cuma aku seorang yang naik bis itu...
Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang sepinya penumpang bis Purwokerto - Yogyakarta hari itu. Ada yang lebih menarik dari itu, menurutku. Hal itu adalah ceramah yang diberikan oleh salah seorang Kyai besar dari Rembang, Jawa Tengah yang sengaja didatangkan oleh Kyai Zaini Adnan, Pengurus Ponpes Ki Ageng Giring, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta dalam rangka Akhirussanah dan Khaul Pendiri Ponpes tersebut. Ki Ageng Giring adalah tempat aku mengawali pengalamanku ketika awal berkelana di Yogyakarta, sekitar 8 tahunyang lalu.
Sekitar jam 20.00 WIB aku dan mas Hendro sampai di pondok Ki Ageng Giring. Tamu sudah berdatangan. Rebana pembuka telah mementaskan kemampuannya. Sholawat diiringi tabuhan musik klasik khas rebana terdengar santer melalui pengeras suara. Penerima tamu undangan telah dengan sigap menyalami satu persatu tamuyang mulai berdatangan dan sekalian mempersilahkan tamu-tamu tersebut untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Termasuk aku dan mas Hendro, juga dipersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan. Malam itu aku merasa kembali ke suasana 8 tahun yang lalu di Ponpes yang penuh kenangan itu. Beberapa teman yang barengan mondhok 8 tahun lalu melintas dan melemparkan senyum kepadaku. Kemudian saling salam dan tanya kabarpun terjadi. Sekarang mereka sudah mandiri dan beberapa sudah menikah. Hm..., waktu cepat berlalu, pikirku.....
Jam 21.00 WIB penampilan rebana berakhir. Kemudian di sambung dengan Mujahadah yang dipimpin oleh KH. .... (lupa namanya), salah satu pemimpin jama'ah mujahadah Gus Mulik. Entah berapa puluh kali kami membaca surah Al-Fatikhah untuk berwasilah kepada para kyai sepuhyang telah meninggal di pulau Jawa ini. Berapa puluh kali juga Sholawat kami bacakan di bawak pimpinan kyai tersebut. Tak terasa mujahadah telah berlangsung sekitar 90 menit...
Beberapa waktu kemudian, kyai yang didaulat untuk mengisi ceramah dari Rembang naik ke pentas. Dengan logat asli pantura, kyai tersebut berbicara ringan tapi mengandung makna yang sangat tajam. Dua hal yang paling ditakuti manusia, yakni mati dan tidak punya harta (uang)...
"Orang kaya pasti akan mati...., orang miskin pasti akan mati...
Pejabat pasti akan mati..., rakyat jelata pasti akan mati...
Orang baik pasti akan mati..., orang jahat pasti akan mati...
Kullunafsin Dzaaiqotul Mauut....
Semua yang bernyawa pasti akan mati...
Menghadapi kematian sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan. Yang perlu dipersiapkan adalah apa yang kita bawa setelah mati. Dunia hanya tempat sementara untuk mencari kebahagiaan, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki adalah sorga yang dijanjikan Allah SWT."
Itulah kalimat pembuka yang diperdengarkan oleh pak Kyai. Semua yang pernah hidup pasti akan menghadapi kematian. Namun terhadap suatu hal yang pasti tersebut, pada umumnya, manusia sangat takut menhadapinya. Ada yang beralasan belum sepenuhnya menikmati kesenangan hidup di dunia, terlalu banyak berdosa, atau yang merasa bahwa amal ibadahnya masih kurang. Apapun bentuk alasan manusia, pasti tidak pernah luput dari malaikat pencabut nyawa...!!!
Satu bahasan menarik yang bisa saya tangkap dari materi yang disampaikan oleh pak kyai, yakni sebenarnya susah atau mudahnya hidup manusia tergantung dari ulah manusia itu sendiri. Sangat tergantung dari cara manusia mengsikapi hidup itu sendiri. Manusia yang terlalu bersemangat mengejar kenikmatan dunia sampai lupa dengan tujuan hidupnya akan sangat menyesal ketika ajal sudah di depan mata, ketika malaikat pencabut nyawa sudah menampakkan wujudnya. Diberi umur puluhan tahun tetapi baru menyadari bahwa umuryang diberikan Allah SWT itu ternyata sia-sia karena merasa amal ibadahnya kurang demi mengejar kesenangan duniawi. Harta benda, jabatan, status sosial seakan tidak ada harganya sama sekali ketika ajal sudah di depan mata. Hanya tangis penyesalanyang keluar dari hatinya... Dan kematian adalah hal yang sangat ditakutinya...
Di sisi lain, manusia yang istiqomah dengan tujuan akhir kehidupannya, merasa bahwa dunia hanya tempat persinggahan sementara (mampir ngombe), dan percaya bahwa kenikmatan yang sesungguhnya akan didapatkan ketika nanti masuk sorga, akan selalu berhati-hati dalam melangkahkan kaki untuk mengarungi kehidupan ini. Jiwa dan raga hanya amanah Allah SWT dalam mencari amalan ibadah sebanyak-banyaknya. Keseimbangan dunia akhirat mutlak diperlukan dalam mencapai tujuan akhir kehidupannya yakni taman Firdaus di akhirat. Jika manusia sudahbisa mengerti hakikat kehidupan dan bisa menjaga dirinya dari godaan nafsu dunia agar tidak terlalu berlebihan dalam menjalani kehidupan itu, Insya Allah, kematian bukan sesuatu yang ditakuti. Karena dia berfikiran bahwa kematian hanya proses berpindah dunia saja. Sejatinya dia masih tetap hidup, tetapi hanya berbeda dunia.
Pak Kyai kemudian mengingatkan jama'ah yang datang dengan sebuah tembang Jawa terkenal ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga:
Lir ilir... Lir ilir...
Tandure wis sumilir... Tak ijo royo-royo Tak senggoh kemanten anyar...
Bocah angon bocah angon... Penekno blimbing kuwi... Lunyu-lunyu yo penekno Kanggo basuh dodot iro..
Dodot iro.. dodot iro.. Kumitir bedah ing pinggir.. Dondomono jlumatono.. Kanggo sebo mengko sore... Mumpung padang rembulane... Mumpung jembar kalangane... Yo surako surak hiyo...
Lir ilir... Lir ilir... Tandure wis sumilir
Ayo setiap jiwa, bangunlah semua. Tanaman (jiwa) sudah bersemi untuk menyongsong kebaikan....
Tak ijo royo-royo... tak sengguh penganten anyar...
Semua jiwa yang sudah bangun menjadi bahagia sekali seperti tanaman tumbuh yang berwarna hijau. Berwarna hijau berarti tumbuhnya subur sekali. Bahagia seperti pengantin baru, senantiasa tersenyum dan tidak memiliki hati gundah.
Cah angon... cah angon... Penekno blimbing kui...
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro....
Cah angon merujuk pada Rasulullah Muhammad SAW yang sebelum menjadi rasul adalah penggembala kambing. Setelah menjadi Rasul, ummat beliau yang minta dibimbing ke jalan Allah SWT. Buah blimbing memiliki lima buah sisir yang memiliki makna sholat lima waktu yang menjadi kewajiban mutlak kita sebagai umat islam. Dengan sholat tersebut maka komunikasi kita kepada Allah SWT akan terbuka. Sebagai umat islam, ketika berkomunikasi dengan Allah SWT tersebut, kita dituntut agar khusu' dengan sejenak meninggalkan urusan duniawi. Tanpa kekhusukan, kitaakan sulit terhubung dengan Allah SWT. Ibarat sebuah HP yang berfungsi dengan baik, tanpa sinyal provider maka tetap saja tidak akan bisa berkomunikasi. Jumlah rekaat menandakan nomor yang akan dihubungi (2-4-4-3-4). Umat islam meminta kepada Rasulullah SAW untuk selalu dibimbing agar bersih jiwa dan raganya, meskipun aral rintangan kian menghadang.
Dodot iro.. dodot iro...
Kumitir bedah ing pinggir...
Dandanono..., jlumatono...
Kanggo ngadep mengko sore....
Jiwa dan raga yang senantiasa kotor, penuh dosa karena fitrah manusia yang memiliki nafsu sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Allah SWT. Secepatnya dibenahi ketika masih hidup didunia. Amalan-amalan yang masih "bolong-bolong" segera saja ditambal agar lebih sempurna. Ibadah yang dirasa kurang ikhlas, segera diperbaiki dengan mohon ampun kehadirat Allah SWT karena Allah SWT memiliki sifat Maha Kasih dan Maha Sayang. Jika sudah memasuki ajal, amalan ibadah yang ikhlas dilakukan tersebut yangakan digunakan untuk menghadap Illahi Rabbi....
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo
Mumpung hari masih terang, kesempatan masih terbuka lebar. Mumpung masih banyak waktu luang. Segeralah datang kepada Allah SWT dengan niat ikhlas dan bersemangatlah dan katakan Iya dengan ajakan ini...!!! Bersemangat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-langan Allah SWT.
(bersambung)
Jam 21.00 WIB penampilan rebana berakhir. Kemudian di sambung dengan Mujahadah yang dipimpin oleh KH. .... (lupa namanya), salah satu pemimpin jama'ah mujahadah Gus Mulik. Entah berapa puluh kali kami membaca surah Al-Fatikhah untuk berwasilah kepada para kyai sepuhyang telah meninggal di pulau Jawa ini. Berapa puluh kali juga Sholawat kami bacakan di bawak pimpinan kyai tersebut. Tak terasa mujahadah telah berlangsung sekitar 90 menit...
Beberapa waktu kemudian, kyai yang didaulat untuk mengisi ceramah dari Rembang naik ke pentas. Dengan logat asli pantura, kyai tersebut berbicara ringan tapi mengandung makna yang sangat tajam. Dua hal yang paling ditakuti manusia, yakni mati dan tidak punya harta (uang)...
"Orang kaya pasti akan mati...., orang miskin pasti akan mati...
Pejabat pasti akan mati..., rakyat jelata pasti akan mati...
Orang baik pasti akan mati..., orang jahat pasti akan mati...
Kullunafsin Dzaaiqotul Mauut....
Semua yang bernyawa pasti akan mati...
Menghadapi kematian sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan. Yang perlu dipersiapkan adalah apa yang kita bawa setelah mati. Dunia hanya tempat sementara untuk mencari kebahagiaan, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki adalah sorga yang dijanjikan Allah SWT."
Itulah kalimat pembuka yang diperdengarkan oleh pak Kyai. Semua yang pernah hidup pasti akan menghadapi kematian. Namun terhadap suatu hal yang pasti tersebut, pada umumnya, manusia sangat takut menhadapinya. Ada yang beralasan belum sepenuhnya menikmati kesenangan hidup di dunia, terlalu banyak berdosa, atau yang merasa bahwa amal ibadahnya masih kurang. Apapun bentuk alasan manusia, pasti tidak pernah luput dari malaikat pencabut nyawa...!!!
Satu bahasan menarik yang bisa saya tangkap dari materi yang disampaikan oleh pak kyai, yakni sebenarnya susah atau mudahnya hidup manusia tergantung dari ulah manusia itu sendiri. Sangat tergantung dari cara manusia mengsikapi hidup itu sendiri. Manusia yang terlalu bersemangat mengejar kenikmatan dunia sampai lupa dengan tujuan hidupnya akan sangat menyesal ketika ajal sudah di depan mata, ketika malaikat pencabut nyawa sudah menampakkan wujudnya. Diberi umur puluhan tahun tetapi baru menyadari bahwa umuryang diberikan Allah SWT itu ternyata sia-sia karena merasa amal ibadahnya kurang demi mengejar kesenangan duniawi. Harta benda, jabatan, status sosial seakan tidak ada harganya sama sekali ketika ajal sudah di depan mata. Hanya tangis penyesalanyang keluar dari hatinya... Dan kematian adalah hal yang sangat ditakutinya...
Di sisi lain, manusia yang istiqomah dengan tujuan akhir kehidupannya, merasa bahwa dunia hanya tempat persinggahan sementara (mampir ngombe), dan percaya bahwa kenikmatan yang sesungguhnya akan didapatkan ketika nanti masuk sorga, akan selalu berhati-hati dalam melangkahkan kaki untuk mengarungi kehidupan ini. Jiwa dan raga hanya amanah Allah SWT dalam mencari amalan ibadah sebanyak-banyaknya. Keseimbangan dunia akhirat mutlak diperlukan dalam mencapai tujuan akhir kehidupannya yakni taman Firdaus di akhirat. Jika manusia sudahbisa mengerti hakikat kehidupan dan bisa menjaga dirinya dari godaan nafsu dunia agar tidak terlalu berlebihan dalam menjalani kehidupan itu, Insya Allah, kematian bukan sesuatu yang ditakuti. Karena dia berfikiran bahwa kematian hanya proses berpindah dunia saja. Sejatinya dia masih tetap hidup, tetapi hanya berbeda dunia.
Pak Kyai kemudian mengingatkan jama'ah yang datang dengan sebuah tembang Jawa terkenal ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga:
Lir ilir... Lir ilir...
Tandure wis sumilir... Tak ijo royo-royo Tak senggoh kemanten anyar...
Bocah angon bocah angon... Penekno blimbing kuwi... Lunyu-lunyu yo penekno Kanggo basuh dodot iro..
Dodot iro.. dodot iro.. Kumitir bedah ing pinggir.. Dondomono jlumatono.. Kanggo sebo mengko sore... Mumpung padang rembulane... Mumpung jembar kalangane... Yo surako surak hiyo...
Lir ilir... Lir ilir... Tandure wis sumilir
Ayo setiap jiwa, bangunlah semua. Tanaman (jiwa) sudah bersemi untuk menyongsong kebaikan....
Tak ijo royo-royo... tak sengguh penganten anyar...
Semua jiwa yang sudah bangun menjadi bahagia sekali seperti tanaman tumbuh yang berwarna hijau. Berwarna hijau berarti tumbuhnya subur sekali. Bahagia seperti pengantin baru, senantiasa tersenyum dan tidak memiliki hati gundah.
Cah angon... cah angon... Penekno blimbing kui...
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro....
Cah angon merujuk pada Rasulullah Muhammad SAW yang sebelum menjadi rasul adalah penggembala kambing. Setelah menjadi Rasul, ummat beliau yang minta dibimbing ke jalan Allah SWT. Buah blimbing memiliki lima buah sisir yang memiliki makna sholat lima waktu yang menjadi kewajiban mutlak kita sebagai umat islam. Dengan sholat tersebut maka komunikasi kita kepada Allah SWT akan terbuka. Sebagai umat islam, ketika berkomunikasi dengan Allah SWT tersebut, kita dituntut agar khusu' dengan sejenak meninggalkan urusan duniawi. Tanpa kekhusukan, kitaakan sulit terhubung dengan Allah SWT. Ibarat sebuah HP yang berfungsi dengan baik, tanpa sinyal provider maka tetap saja tidak akan bisa berkomunikasi. Jumlah rekaat menandakan nomor yang akan dihubungi (2-4-4-3-4). Umat islam meminta kepada Rasulullah SAW untuk selalu dibimbing agar bersih jiwa dan raganya, meskipun aral rintangan kian menghadang.
Dodot iro.. dodot iro...
Kumitir bedah ing pinggir...
Dandanono..., jlumatono...
Kanggo ngadep mengko sore....
Jiwa dan raga yang senantiasa kotor, penuh dosa karena fitrah manusia yang memiliki nafsu sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Allah SWT. Secepatnya dibenahi ketika masih hidup didunia. Amalan-amalan yang masih "bolong-bolong" segera saja ditambal agar lebih sempurna. Ibadah yang dirasa kurang ikhlas, segera diperbaiki dengan mohon ampun kehadirat Allah SWT karena Allah SWT memiliki sifat Maha Kasih dan Maha Sayang. Jika sudah memasuki ajal, amalan ibadah yang ikhlas dilakukan tersebut yangakan digunakan untuk menghadap Illahi Rabbi....
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo
Mumpung hari masih terang, kesempatan masih terbuka lebar. Mumpung masih banyak waktu luang. Segeralah datang kepada Allah SWT dengan niat ikhlas dan bersemangatlah dan katakan Iya dengan ajakan ini...!!! Bersemangat untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-langan Allah SWT.
(bersambung)